Inflasi Balikpapan dan PPU Melandai pada Januari 2026, BI Pastikan Tetap dalam Target Nasional
New Jurnalis.com Balikpapan, 2 Februari 2026 — Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Januari 2026 menunjukkan tren melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan normalisasi permintaan dan mobilitas masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2025–2026, serta terjaganya pasokan sejumlah komoditas pangan utama.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Kota Balikpapan pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (month to month/mtm). Sementara itu, Kabupaten PPU mencatat inflasi sebesar 0,05 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat 3,26 persen (year on year/yoy), sedangkan inflasi tahunan Kabupaten PPU berada di level 2,75 persen (yoy). Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang tercatat sebesar 3,76 persen (yoy), serta inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy). Realisasi inflasi ini juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026, yakni 2,5 persen ±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi, Deputi Direktur, menyampaikan bahwa terkendalinya inflasi mencerminkan sinergi pengendalian harga yang berjalan efektif di daerah.
“Melandaianya inflasi pada Januari ini menunjukkan bahwa normalisasi permintaan pasca Nataru berjalan baik dan pasokan pangan relatif terjaga. Ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas harga di awal tahun,” ujar Robi.
Di Kota Balikpapan, deflasi terutama didorong oleh Kelompok Transportasi dengan andil sebesar -0,28 persen (mtm). Lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam meliputi angkutan udara, bensin, cabai rawit, sekolah menengah atas, dan cabai merah. Penurunan tarif angkutan udara dipicu oleh berakhirnya periode puncak libur Nataru, sementara turunnya harga bensin dipengaruhi kebijakan penyesuaian harga Pertamax yang berlaku sejak 1 Januari 2026. Adapun penurunan harga cabai sejalan dengan meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Namun demikian, tekanan inflasi di Kota Balikpapan masih bersumber dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil sebesar 0,18 persen (mtm). Komoditas yang mencatat kenaikan harga antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, baju muslim anak, dan mobil. Kenaikan harga emas dipengaruhi tren harga emas global, sementara peningkatan harga baju muslim anak mulai terlihat seiring persiapan masyarakat menyambut bulan Ramadan.
Sementara itu, di Kabupaten PPU, inflasi terutama didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,05 persen (mtm). Komoditas penyumbang inflasi tertinggi meliputi ikan tongkol, tomat, daging ayam ras, kayu balokan, dan emas perhiasan. Kenaikan harga ikan tongkol dipengaruhi oleh kondisi gelombang laut yang tinggi sehingga membatasi aktivitas nelayan.
Di sisi lain, deflasi di Kabupaten PPU ditopang oleh turunnya harga sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, dan jagung manis, seiring meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi dan hasil panen lokal.
Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi tekanan inflasi, antara lain puncak musim hujan, potensi banjir, serta gelombang laut tinggi yang dapat mengganggu distribusi pangan. Selain itu, masuknya periode Ramadan dan HBKN Idulfitri 2026 juga berpotensi mendorong peningkatan permintaan.
“Optimisme konsumen yang masih kuat perlu diimbangi dengan kesiapan pasokan. Karena itu, pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui sinergi TPID dan berbagai program stabilisasi harga,” kata Robi.
Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui pemantauan harga, pasar murah, operasi pasar, penguatan kerja sama antar daerah, serta optimalisasi program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Komentar
Posting Komentar